Selasa, 23 Desember 2014

302 Wirausaha Baru Dapatkan Modal Awal

Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) Jawa Barat memberikan pendampingan kepada wirausaha baru yang dihasilkan dari pelatihan kewirausahaan sebelumnya. Sebanyak 302 wirausaha baru yang tercatat telah memiliki usaha 0-5 tahun mendapatkan pendampingan dari sekitar 200 wirausahawan mitra Dinas KUMKM Jabar.

Kepala Dinas KUMKM Jabar Anton Gustoni mengatakan, sekitar 30% atau 99 wirausaha baru tersebut merupakan pelaku yang benar-benar baru membuka usaha atau memiliki usaha dengan waktu 0 tahun.

“Wirausaha baru yang kami latih dan bina tahun 2014 ini mendapatkan modal awal dari anggatan APBN untuk Jabar yang nilai totalnya sebesar Rp1,4 miliar,” ujarnya pada Diskusi Ekonomi dengan Forum Diskusi Wartawan Ekonomi Bandung (Fordisweb) di Bandung, Senin (1/12/2014).

Modal awal atau start capital dengan status hibah dari pemerintah itu, sebutnya, berkisar Rp5 juta – Rp7 juta. Menurutnya, semua lulusan itu sudah berjalan berusaha sesuai dengan minat dan potensi di wilayah masing-masing.

“Sebagian besar mereka membuka usaha menjahit, salon dan produk makanan. Kami terus melakukan pemantauan kepada mereka. Kami telah membekali manajemen usaha dan pembukuan keuangan yang baik. Diharapkan mereka bisa naik kelas dari pelaku usaha kecil, menengah, hingga menjadi besar,” katanya.

Selain pemberian modal awal bagi wirausaha baru binaan, bantuan serupa juga diberikan pemerintah pusat kepada Jabar bagi para wirausaha mahasiswa. Total nilainya mencapai Rp1,6 miliar untuk Jabar.

“Berbagai program ini diharapkan bisa memicu pelaku usaha baru dan mencapai target pencetakan 100.000 wirausaha baru,” sebutnya.

Bantuan modal itu diharapkan tidak menjadikan para wirausaha menjadi terlena. Mereka justru didorong agar terus berupaya untuk menjadikan usahanya sebagai perusahaan bankable sehingga bisa mengakses pembiayaan yang lebih besar dari perbankan.

“Kami juga memiliki program Kredit Cinta Rakyat (KCR) dengan bunga rendah yang disalurkan melalui Bank Pembangunan Daerah Jabar Banten (Bank BJB),” sambungnya.

Meskipun begitu, pihaknya berharap ke depan pengolahan kredit mikro itu bisa ditangani dan disalurkan melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)  kredit mikro. Hal ini dirasa lebih bisa diakses oleh UMKM terutama wirausaha baru dengan modal terbatas.

“Selain permodalan, permasalahan UMKM saat ini adalah daya saing. Untuk itu, kami melakukan pendampingan pasar, kemasan dan memfasilitasi promosi di dalam maupun ke luar negeri. Khusus kemasan, kami lebih memprioritaskannya. Sebab, produk dengan kemasan sudah bagus bisa meningkatkan  harga jual lebih tinggi lagi,” tuturnya.

artikel lainnya

Kadin Kucurkan Pinjaman Modal Kerja untuk UKM Bengkulu


usaha kecil


Lembaga Pembiayaan yang dibentuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Palapa Nusantara Berdikari merealisasikan bantuan pinjaman modal kerja kepada UKM Bengkulu yang sudah berorientasi ekspor. Hal ini sejalan dengan misi Kadin untuk mengembangkan potensi usaha daerah melalui dukungan dari sisi akses pembiayaan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P. Roeslani menyerahkan secara langsung pinjaman modal sebesar Rp 500 Juta kepada PT Bengkulu Lestari yang sudah banyak mengekspor jahe gajah ke Jepang.
Sebelumnya, Kadin melalui Palapa Nusantara Berdikari telah mengucurkan pinjaman modal di daerah-daerah lainnya seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan akan memberikan dana pinjaman di daerah-daerah lainnya di Indonesia.
Palapa, kata Rosan, menargetkan realisasi kucuran pinjaman hingga Rp 100 miliar hingga tahun 2015.
“Kontribusi UKM bagi penguatan ekonomi daerah sangat besar sehingga semua pihak harus melakukan upaya-upaya penguatan UKM agar bisa meningkatkan produktivitas dan lebih berdaya saing,” kata Rosan di sela-sela penyerahan bantuan Palapa di Bengkulu, Rabu (26/11/2014).

Menurut Rosan, di tengah dinamika ekonomi Indonesia yang masih mengalami permasalahan kompleks, terindikasi dari adanya berbagai permasalahan yang dialami seperti defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, sektor UKM daerah sudah seharusnya kembali dapat menjadi andalan penopang perekonomian nasional.

“Penguatan UKM harus dilakukan dan kita yakin masing-masing daerah memiliki keunggulannya, kita harapkan pemerintah daerah juga bisa semakin menyadari dan mempraktekkan akan pentingnya kebijakan daerah yang business friendly," papar dia.

Menurut Rosan, untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, sebagian besar pelaku UKM menemui kendala seperti minimnya dukungan pembiayaan karena aksesnya yang terbatas kepada lembaga perbankan.
“Sebagian besar pelaku UKM dinilai masih belum bankable sehingga terkendala dalam akses pembiayaan untuk mengembangkan usaha," ungkapnya.

Berkaitan dengan hal itu, pihaknya merekomendasikan kepada para pelaku UKM untuk bisa mengakses permodalan melalui lembaga non perbankan untuk mengembangkan usaha, sehingga tidak terpaku pada perbankan saja.
”Palapa Nusantara Berdikari akan membina badan usaha atau pelaku UKM yang memiliki potensi untuk lebih berkembang, seperti UKM yang hari ini kita serahkan pinjaman modal kerja,” ujar dia.

Sementara itu, UKM sekarang ini diharapkan tidak hanya dapat bersaing untuk pasar lokal saja, tetapi juga bisa bersaing di pasar luar negeri. Ekspor daerah, kata Rosan, kini sangat diharapkan pula  berkontribusi lebih optimal untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional.

Kementerian Perdagangan mencatat, pada tahun 2013 Bengkulu merupakan Provinsi pengekspor ke-27 dengan nilai sebesar US$ 154,1 juta atau menyumbang 0,1 persen dari total ekspor non migas Indonesia. Untuk periode Januari-Mei 2014 ekspor non migas Bengkulu mencapai US$ 41,3 juta turun 44,04 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 73,7 juta.
 
artikel terkait

UMKM Masih Ragu Pinjam Modal ke Bank




Banyak Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) masih ragu-ragu meminjam dana ke Bank untuk modal usahanya. Survei yang dilakukan bidang edukasi dan perlindungan konsumen Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan, hanya 7 persen UMKM dengan dana terbatas yang memutuskan untuk meminjam uang ke Bank untuk memuluskan jalannya bisnis perusahaan.

Komisoner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kusumaningtuti S Soetiono menjelaskan, selain jaminan yang tidak mampu dipenuhi, banyak UMKM juga enggan menggunakan jasa Bank karena persyaratan yang rumit.

"Mereka (UMKM) susah mengakses karena persyaratan dokumen yang harus diisi, tanda pengenal yang harus diserahkan, syarat itu membuat mereka ragu," kata Kusumaningtuti di sela-sela Internatisonal Seminar on Financial Literacy, di Nusa Dua, Bali, Selasa (25/11/2014).

Pada akhirnya, banyak UMKM yang meminjam modalnya dari sumber lain, yakni sebesar 26,4 persen. UMKM juga banyak yang memutuskan untuk memotong pengeluaran usaha (14,7 persen) dan pengeluaran rumah tangga (11,4 persen).

Untuk itu, lanjut Kusumaningtuti, proses peminjaman modal di Bank harus disederhanakan, khususnya untuk UMKM. Menurut dia, OJK akan mendorong Bank untuk segera menerapkan hal itu.

"Proses ini harus di-simplify. Dengan kemarin POJK (Peraturan-OJK) laku pandai, akan ada layanan keuangan tanpa kantor. Nanti akan ada agen-agen Bank yang mendatangi UMKM itu," ucap dia.

Momentum Promosikan Usaha Kecil dan Menengah di Manado




Festival Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) BTPN yang akan digelar di Lapangan Mega Mas Manado, Sulawesi Utara, pada 19-20 Desember 2014) akan memberi dampak positif bagi dunia usaha di Manado dan sekitarnya. Ratusan pelaku UMKM akan menjadi peserta acara tersebut.

“Saat ini, dari data yang saya terima, sudah lebih dari 150 pelaku UMKM di Manado yang mendaftar dan siap memeriahkan Festival dengan produk terbaik mereka untuk warga Manado dan Sulawesi Utara secara umum,” ujar Wali Kota Manado Vicky Lumentut di Manado, Kamis (17/12/2014).

Menurut Wali Kota, Festival UMKM yang digelar PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan bekerja sama dengan Sindonews.com (MNC Group), Koran SINDO Manado dan Pemerintah Kota Manado akan menjadi momentum terbaik untuk mempromosikan hasil usaha UMKM ke tingkat nasional.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Manado Dante Tombeg juga menyambut baik Festival tersebut. Dia mengungkapkan, Festival Pemberdayaan UMKM BTPN ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pelaku UMKM di Manado dan sekitarnya.

“Festival seperti ini memang biasa digelar di Kota Manado. Tapi dengan melihat rancangan acaranya, tentu saja masyarakat akan beramai-ramai datang ke lokasi festival,” ujarnya.

Bagi BTPN, Festival ini merupakan salah satu bentuk komitmen bank tersebut untuk memberikan akses pasar kepada para pelaku usaha UMKM.

Sebagai bank yang fokus dan konsisten menggarap segmen masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku UMKM, termasuk masyarakat prasejahtera produktif (mass market), BTPN meyakini nasabah mass market tidak hanya membutuhkan akses finansial, tetapi juga pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan kualitas hidup mereka.

Hal ini diwujudkan melalui Daya, yaitu program pemberdayaan mass market yang terukur dan berkelanjutan.

Melalui Daya, BTPN secara reguler memberikan pelatihan dan informasi untuk meningkatkan kapasitas nasabah. Daya diterapkan pada seluruh unit bisnis BTPN, yaitu BTPN Purna Bakti – unit bisnis yang fokus untuk melayani nasabah pensiunan , BTPN Mitra Usaha Rakyat – unit bisnis yang fokus untuk melayani pelaku usaha mikro & kecil dan BTPN Sinaya – unit bisnis pendanaan.

Daya juga diterapkan pada anak usaha BTPN yaitu BTPN Syariah – yang fokus untuk melayani nasabah dari komunitas pra-sejahtera produktif. Penerima manfaat Program Daya adalah seluruh nasabah BTPN yang meliputi para pensiunan, pelaku UMKM, dan komunitas pra-sejahtera produktif.

Dari total jumlah peserta bazaar pada festival tersebut, 50 peserta merupakan nasabah yang telah menerima pinjaman modal serta mengikuti aktivitas pemberdayaan dari BTPN.

"Kami meyakini bahwa sektor UMKM berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Untuk itu, penyelenggaraan Festival Pemberdayaan UMKM BTPN merupakan bentuk apresiasi dan komitmen kami kepada para pelaku UMKM. Kami berharap, Festival ini bisa semakin mendorong pertumbuhan UMKM, tak hanya di Manado, tetapi di seluruh Indonesia,” ujar Direktur BTPN, Mulia Salim.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Manado, Ricky Polii menyatakan, antusiasmenya untuk mengikuti festival ini. “Ada sejumlah pengusaha UMKM menyatakan siap memamerkan bawang rica tomat (Barito),” ungkap Polii.

Adek Novriadi, salah satu pelaku usaha kerajinan kulit dan aksesori asal Padang yang sudah lima tahun berdomisili di Manado mengaku tertarik untuk bergabung.

"Saya pasti akan ikut pada pagelaran ini, apalagi mengatasnamakan MNC Group dan Pemkot Manado, pasti meriah. Sebab sudah beberapa bukti, setiap MNC Group gelar kegiatan di Manado, animo masyarakat luar biasa, mencapai ribuan," ujarnya.

Hal senada dikatakan, Sukri Koto. Menurutnya, beberapa rekannya di luar Manado akan segera diinformasikan untuk ikut pada kegiatan UMKM selama dua hari itu di Lapangan Megamas.

Jumat, 19 Desember 2014

Pengusaha Besar Tak Boleh 'Kebiri' Pengusaha Kecil

Pengusaha Kecil


Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla meminta agar pengusaha kecil dilindungi dari sepak terjang pengusaha besar. Bila tidak dilindungi, maka akan terjadi ketimpangan dan hal tersebut tidak baik untuk Indonesia.

"Pengusaha kecil dimajukan, pengusaha daerah dimajukan. Kalau tidak selesai semua oleh pengusaha besar, real estate. Boleh saja Lippo, Ciputra ada di daerah, tentu itu hak, tapi majukan yang kecil-kecil. kalau tidak akan muncul ketidakadilan, ketimpangan dan akan berbahaya bagi bangsa ke depan," kata JK dalam penutupan Musrenbangnas RPJMN 2015-2019 di hadapan para gubernur, bupati, dan walikota seluruh Indonesia, di Jakarta, Kamis (18/12/2014).

JK menuturkan menjaga agar kondisi usaha tidak timpang bukanlah bentuk diskriminasi pada pengusaha besar. Hal tersebut berguna untuk menghindari gesekan sosial.
"Jadi disamping menjaga pertumbuhan, menjaga keadilan memberikan kesempatan yang baik kepada masyarakat agar tidak terjadi gesekan sosial berbahaya, justru kerugian kita semua. Itulah affirmative action, mendahulukan yang kecil, bukan diskriminasi, tapi untuk menyelamatkan yang besar," ungkapnya.
"Kalau Anda memberikan keutamaan bagi pengusaha lokal, itu bukan berarti menghalangi pengusaha besar, tetapi supaya pengusaha selamat ada di daerah itu.  Maka kita harus mendahulukan seperti itu, bukan hanya berikan izin mal, tapi juga toko-toko diperbaiki," tambah JK.

JK memberi contoh terkait antara mini market dan warung biasa. Menurutnya, menjamurnya mini market menandakan iklim usaha cukup baik. Namun, dampak negatifnya dirasakan warung biasa.
"Mendag harus menyiapkan peraturan itu bagaimana memanage usaha-usaha kecil, bukan untuk menurunkan yang besar, tetapi memajukan yang tidak maju. itu konsep yang harus kita ikuti dan semuanya tergantung manusia, kebijakan kita," tandas JK

Inovasi Display untuk Usaha Kecil Menengah


Usaha Kecil Menengah

Samsung Electronics Indonesia mengembangkan inovasi dalam segmen “professional display” untuk memenuhi kebutuhan usaha kecil menengah (UKM). Pengalaman bisnis yang baru itu ditujukan untuk meningkatkan performa usaha kecil dan menengah agar lebih produktif, fleksibel, dan efisien.
Head of Professional Display Business Samsung Electronics Indonesia Willy Bayu Santosa menuturkan, selama ini banyak pemilik bisnis yang masih menggunakan Consumer TV sebagai media promosi bagi usahanya.

Dijelaskan, karena memang tidak didesain untuk penggunaan komersial, Consumer TV ini memiliki banyak keterbatasan, baik dari sisi “software” maupun “hardware”. Sehingga, dapat menyulitkan pengguna adalam fleksibilitas, tampilan, dan memperbarui materi promosi

“Sementara, produk professional display khusus didesain untuk menjawab kebutuhan tersebut, sekaligus memberikan ‘durability’ lebih dalam penggunaan jangka panjang,” ujarnya saat “small group interview” dengan sejumlah media.
Pada acara itu juga hadir Head of Enterprise Mobility Business Samsung Electronics Indonesia Berdhianto Priyotomo.

Disebutkan, layar digital dan solusi pengaturan materi (content management) dirancang khusus untuk kebutuhan bisnis.
Willy mencontohkan, kehadiran Samsung Signage TV berupa layar digital yang didesain dapat menampilkan siaran televisi dan konten promosi pada saat yang bersamaan diyakini sudah mulai mengubah paradigma sebagian pelaku bisnis.

Signage TV memiliki “content management software” yakni Magicinfo Express. Ini berfungsi membuat dan mengatur layout untuk ditampilkan di layar “high definition (HD)”.
Magicinfo Express juga memungkinkan pengguna untuk mengatur jadwal tampil konten per hari bahkan hingga sepekan ke depan.

Mengenai kemudahan penggunaan, konten dapat diputar tanpa tambahan perangkat lain dengan adanya “media player” terintegrasi via USB Drive maupun secara nirkabel (wireless) melalui “devices” yang telah dilengkapi dengan fitur WiFi.
Pengaturan konten juga dapat dilakukan dengan fitur SmartMagic Mobile, sehingga pelaku usaha bisa memperbarui informasi atau mengunggah foto melalui aplikasi “mobile” dengan basis Android maupun Windows Mobile.

Diperkenalkannya Samsung Signage TV melengkapi rangkaian rangkaian Display Solutions sebelumnya, yakni Smart Signage (solusi bagi pelaku bisnis yang memiliki jaringan lebih luas) dan Hospitality TV bagi pelaku bisnis hotel yang menghadirkan tingkat layanan lebih lanjut berupa personalisasi tampilan di setiap kamar dengan pengontrolan terpusat.

Dijelaskan, selain industri ritel, Samsung juga membawa New Business Experience sebagai solusi bagi dunia pendidikan, yaitu Samsung Smart School untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, antara lain papan tulis elektronik atau e-Board, tablet, dan printer.

Aturan Baru Facebook Rugikan Usaha Kecil


Facebook Rugikan Usaha Kecil

Wirausahawan Chrisy Bossie yang menghabiskan sampai USD1.000 per bulan untuk beriklan di Facebook.
Chrisy Bossie membangun bisnis e-commerce batu mulia senilai USD100 ribu per tahun dengan berbagi informasi produknya di halaman Facebook beberapa kali dalam seminggu.

“Diskon di Toko! Ada BANYAK kalung 36 inci baru, dengan harga rata-rata USD15, tersedia dalam batu permata, lapis, turmalin semangka, hijau toska…Dapatkan semuanya di sini,” tulisnya dalam update status baru-baru ini di akun Facebook Earthegy, toko online milik Bossie.

Ia menjalankan bisnisnya dari rumahnya di Kent Store, daerah pedesaan negara bagian Virginia, Amerika Serikat. Bossie juga mengunggah foto dan tautan ke produknya dengan harapan 70 ribu penggemarnya di Facebook akan membagi post-nya ke teman mereka masing-masing di jejaring sosial tersebut.
Namun pemilik usaha kecil seperti Bossie dalam waktu dekat harus siap merasakan berkurangnya manfaat dari upaya pemasaran yang diunggah ke Facebook. Mulai pertengahan Januari nanti, jejaring sosial itu akan meningkatkan upaya menyaring materi promosi tak berbayar dalam news feed pengguna yang dituliskan wirausahawan sebagai update status.

Perubahan ini akan mempersulit wirausahawan seperti Bossie, yang telah menjalankan Earthegy selama empat tahun. Wirausahawan biasanya menjangkau konsumen di halaman Facebooknya lewat status pemasaran yang bukan iklan berbayar.
Toko yang menulis promosi gratis atau mendaur ulang konten dari iklan yang telah ada akan merasakan “distribusi yang berkurang secara signifikan,” tulis Facebook awal November saat mengumumkan perubahan aturannya.

Hasilnya bagi Bossie? “Jika saya tidak membayar untuk promosi post, hampir tak ada orang yang melihat post saya,” katanya. Kini, lebih dari 50 persen penjualan bisnisnya berasal dari post Facebook.
Lebih dari 80 persen perusahaan kecil yang memakai media sosial untuk mempromosikan usahanya mengaku Facebook adalah alat pemasaran utamanya. Ini diikuti oleh LinkedIn dan Twitter, menurut survei terhadap 2.292 usaha kecil di Amerika Serikat oleh Webs, divisi layanan digital Vistaprint. Tiga alasan utama pengusaha membangun halaman Facebook adalah untuk memperoleh konsumen baru, membuat jaringan pengikut, serta meningkatkan kesadaran brand, kata survei.

Dan Levy, wakil presiden usaha kecil untuk Facebook, mengatakan opsi iklan berbayar Facebook jadi lebih efektif baru-baru ini. Wirausahawan seharusnya memandang Facebook sebagai alat untuk “membantu mengembangkan bisnisnya, bukan solusi sosial tertentu untuk menjangkau lebih banyak pengguna atau membuat post jadi tersebar luas di Internet.”

Levy mengaku “punya banyak empati” terhadap pemilik usaha “yang merasakan evolusi” reduksi jangkauan organik atau organic reach. Namun ia mengatakan organic reach hanyalah salah satu keuntungan yang didapat perusahaan dari Facebook. Bulan lalu, tercatat lebih dari satu miliar kunjungan ke halaman-halaman Facebook secara langsung.

“Memiliki halaman Facebook tempat Anda dapat ditemukan juga punya banyak nilai,” kata Levy.
“Kami tidak ingin pengusaha mengeluarkan uang untuk kami, kecuali Facebook melakukan sesuatu yang spektakuler dalam membantu pengusaha mengembangkan bisnisnya.”(Oleh Reed Albergotti, Angus Loten And Adam Janofsky)